ChatBox

Selasa, 01 Maret 2011

Kelas Unggulan yang Sesat dalam Sistem Sekolah Kita

Kelas Unggulan yang Sesat dalam Sistem Sekolah Kita
Oleh Suyanto

SEBAGAI bangsa, sampai saat ini kita belum memiliki unggulan kompetitif dan bisa dibanggakan di bidang sumber daya manusia, meski secara individual ada beberapa warga negara Indonesia yang memiliki kompetensi dan daya saing internasional amat hebat. Beberapa warga negara yang berkualitas internasional itu tentu tidak akan mampu mengangkat derajat kualitas kita sebagai sebuah bangsa. Itu sebabnya, untuk masa datang, penting diperjuangkan melalui sistem pendidikan nasional ialah kualitas bangsa dalam arti keseluruhan.
Ini memang tidak mudah dilakukan, karena dalam berbagai aspek, kita masih menyandang indikator kualitas lapis amat bawah dibanding negara sesama ASEAN sekalipun. Human Development Index (HDI) kita kini pada urutan 106 dari 174 negara di dunia. Menurut survei PERC (Political and Economic Risk Consultant) kualitas pendidikan nasional kita pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Prestasi matematika dan IPA siswa kita amat rendah dibanding negara lain yang telah diteliti TIMSS-R (The Third International Mathematics and Science Study-Repeat 1999). Dari 38 negara di lima benua-Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Eropa-yang diteliti TIMSS-R, menunjukkan, prestasi belajar IPA dan matematika siswa SLTP kita masing-masing pada urutan 33 dan 35.
Namun, satu aspek bangsa kita, yang menurut penelitian PERC, menduduki urutan pertama dari 11 negara di Asia, yaitu korupsi. Kita merupakan negara terkorup di antara 11 negara di Asia. Tampaknya, kondisi kualitas bangsa yang kian terpuruk mendapat respons gegap gempita oleh para pemegang otoritas pendidikan di sekolah. Untuk beberapa tahun lalu dan saat ini, banyak sekolah dengan sengaja membuat kelas unggulan dan kelas akselerasi. Tanpa disadari ini juga menciptakan kelas berkualitas "gombal".

Malpraktik
Kini banyak sekolah merespons fenomena rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan menciptakan program sekolah yang kelihatannya menjanjikan, namun secara pedagogis menyesatkan. Bahkan, program-program itu ada yang telah memasuki wilayah malpraktik dan akan merugikan pendidikan kita dalam jangka panjang. Banyak sekolah getol menciptakan kelas-kelas unggulan dengan cara melakukan pengelompokan siswa menurut kemampuan akademiknya.
Dari program ini, siswa dikelompokkan ke berbagai kelas menjadi kelas superbaik, amat baik, baik, sedang, kurang, sampai ke kelas "gombal". Pengelompokan ini tidak memiliki dasar filosofi yang benar. Sekolah melakukannya untuk memudahkan mengajar mereka, dan demi halusinasi semoga akan muncul lulusan yang berkualitas dalam waktu singkat. Bahkan, ada praktik yang lebih tidak mendidik, saat pengelompokan disertai program promosi dan degradasi. Siswa yang tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya bisa digusur dari kelas superbaik ke kelas sedang, dan bisa juga meluncur ke kelas paling bawah, kelas "gombal".
Praktik pengelompokan siswa seperti itu harus segera diakhiri, karena secara psikologis menimbulkan stigmatisasi pada diri siswa yang ada di kelas jelek (kelas "gombal"). Dampak selanjutnya, mereka akan memiliki budaya inferior. Di pihak lain, pengelompokan juga akan menimbulkan sikap arogansi,
eliteisme, dan eksklusivisme pada siswa yang kebetulan ada di kelas superbaik.
Pengelompokan siswa secara homogen itu lebih banyak sesatnya daripada manfaatnya. Dilihat dari proses pembelajaran, guru akan memiliki perilaku instruksional yang bias pada anak didiknya sebagai akibat adanya fenomena positive hallo effect pada kelas homogen yang superbaik. Dalam kondisi yang berkebalikan, guru juga akan memiliki sikap yang bias terhadap peserta didik di kelas jelek sebagai akibat adanya fenomena negative hallo effect pada kelompok kelas itu. Di kelas "gombal" itulah, guru tidak memiliki harapan tinggi terhadap peserta didiknya untuk maju, berkembang, dan berprestasi.
Pendek kata guru pasti akan memiliki self fulfilling prophecy yang amat merugikan bagi proses belajar siswa pada kelas-kelas jelek yang dikelompokkan secara homogen. Jika pendidikan berjalan demikian, justru terjadi proses dehumanisasi secara sistematik di sekolah kita. Karena itu, pengelompokan homogen yang sistematik perlu segera diakhiri, karena program seperti itu merupakan ajaran sesat tanpa disadari sekolah. Penelitian Dominick Esposito (1973), Warren Findly (1971), dan Miriam Bryan (1971) menunjukkan, pengelompokan siswa atas dasar kemampuan akademik secara homogen dan sistematik tidak memberikan kondisi belajar yang menguntungkan bagi siswa. Dalam kelas homogen, siswa tidak memiliki kesempatan luas untuk belajar mengembangkan aspek afektif.
Pengelompokan siswa secara homogen dapat dilakukan sekolah jika diperlukan guna mengakomodasi pengembangan minat dan bakat siswa seperti di bidang musik, olahraga, bela diri, komputer, Internet, kesenian, dan sebagainya. Pengelompokan ini hanya bersifat sementara saat mereka benar-benar sedang berlatih dan sedang berproses mengembangkan minat dan bakatnya. Model pengelompokan seperti itu tidak memiliki dampak labelisasi pada siswa sesuai status kemampuan akademiknya menjadi: kelas supercerdas, amat cerdas, sedang, bodoh, dan amat sangat bodoh. Dengan demikian, tidak terjadi stigmatisasi pada siswa, tidak terjadi bias pada guru, juga tidak terjadi dehumanisasi pada proses belajar di sekolah.

Pemberdayaan
Program pembelajaran di sekolah harus memiliki acuan nyata pada kehidupan di masyarakat agar program itu mampu berperan sebagai pemberdayaan para peserta didik secara egaliter. Jika program pembelajaran di sekolah tidak memiliki acuan nyata dari kehidupan masyarakat kontemporer, tamatan secara otomatis akan terasing di masyarakatnya sendiri. Sistem pengelompokan siswa ke dalam kelas-kelas menurut kemampuan akademiknya, sungguh tidak sesuai dengan hakikat kehidupan di masyarakat. Kehidupan di masyarakat tidak ada yang memiliki karakteristik homogen. Dalam masyarakat ada kelompok-kelompok kehidupan yang selalu bersifat heterogen dilihat dari aspek etnis, agama, bahasa ibu, latar belakang budaya, gaya hidup, dan lainnya. Karena itu, pembagian dan pengelompokan kelas di sekolah perlu dilakukan secara acak, agar terjadi variasi dilihat dari kemampuan akademik mereka.
Dengan pembagian kelas secara heterogen dan acak, siswa akan belajar memahami perbedaan satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupannya. Dari segi akademik, siswa yang cepat belajar dapat dikondisikan agar bersedia dan terdorong membantu siswa lain yang lamban belajar. Dari sini akan muncul kebiasaan tolong-menolong sesama siswa. Dalam konteks tolong-menolong itu akan berkembang budaya saling percaya setelah mereka memiliki sikap toleransi satu sama lain. Sikap saling percaya amat diperlukan dalam kehidupan masyarakat kita kini, mengingat adanya tendensi berbagai bentuk kekerasan sosial yang berawal dari saling dimilikinya sikap-sikap prejudice satu sama lain. Jika sejak awal siswa kita dikotak-kotakkan sesuai kemampuan akademiknya, niscaya sikap dan budaya positif seperti empati, toleransi, demokratis, mau mengakui keunggulan orang lain, mau menerima kelemahan orang lain seperti apa adanya, mau melihat dan hidup dalam keberbedaan kultural, dan sebagainya tidak akan dapat dikembangkan seiring dengan proses pembelajaran itu sendiri di sekolah.
Pengelompokan heterogen secara acak juga akan membuka peluang bagi siswa yang lamban belajar untuk berinteraksi dengan siswa yang cepat belajar. Kondisi ini amat penting dalam kerangka pemberdayaan mereka. Dalam jangka panjang, hal ini akan mendorong lahirnya critical mass dalam masyarakat kita mengingat pada kenyataannya peserta didik yang lamban belajar, jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka yang dikategorikan sebagai siswa cemerlang dan cepat belajar. Dalam konteks pemberdayaan, justru siswa yang lamban belajar inilah yang perlu mendapat perhatian, karena mereka banyak memiliki masalah dalam belajar dibanding siswa cerdas dan cepat belajar di kelas.
Mendorong siswa yang lamban belajar untuk maju dan termotivasi, akan lebih mudah jika dikelompokkan dengan siswa yang cepat belajar. Jika para siswa yang lamban belajar dikelompokkan menjadi satu, mereka selamanya akan termarjinalisasikan secara struktural akibat kesesatan pedagogis dan stigmatisasi psikologis.

Prof Suyanto PhD Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, alumnus Boston dan Michigan State University, USA

0 komentar:

Poskan Komentar