Home » » Kesalahan Fatal pada Penilaian Hasil Belajar Matematika

Kesalahan Fatal pada Penilaian Hasil Belajar Matematika

Written By SDN Kebon Kacang 01 PAGI on Kamis, 03 Maret 2011 | 01.06

Sumber: www.AnneAhira.com

Tanpa disadari, kinerja guru sekolah yang seharusnya bisa mengoptimalkan kecerdasan siswa malah melemahkan potensi yang dimiliki siswa. Contohnya pada penilaian hasil belajar matematika. Guru matematika menerapkan sebuah sistem yang berakibat fatal terhadap prestasi belajar siswa di sekolah.


Ketika siswa memperoleh nilai buruk di mata pelajaran matematika, rasa percaya diri mereka akan turun terhadap mata pelajaran yang lain. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Cap ‘kurang cerdas’ akan disematkan pada siswa yang memperoleh nilai kurang di mata pelajaran matematika.


Padahal, penilaian hasil belajar matematika tidak seharusnya dibebankan kepada siswa melainkan kepada gurunya. Jika guru matematika tidak mampu mencerdaskan siswanya dalam pelajaran matematika, maka ia harus bertanggungjawab jika siswanya memperoleh nilai buruk di mata pelajaran lain.


Kesalahan Memahami Sistem KBK


Sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang diterapkan sekarang seharusnya bisa melatih siswa untuk belajar mandiri dan bereksplorasi dengan cerdas. Akan tetapi, mengaplikasikan sistem KBK bukan berarti melepas siswa begitu saja. Guru harus tetap membimbing, mengawasi dan mengevaluasi hasil belajar siswanya.


Faktanya, guru hanya menjelaskan materi sekilas, memberi tugas perorangan atau kelompok kepada siswa dan langsung memberi penilaian.  Jika nilai siswa jelek, maka siswa yang dipersalahkan karena dianggap tidak belajar secara optimal.


Tentu saja penilaian hasil belajar matematika dengan cara ini sangatlah tidak adil. Secara logika, bagaimana mungkin seseorang mampu mengerjakan tugas jika  tidak memiliki modal yang cukup untuk melakukannya. Akhirnya, sekolah menjadi tempat pengujian, bukan tempat belajar. 


Tidak heran jika para orang tua berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya ke bimbingan belajar supaya memahami materi yang diajarkan di sekolah. Siswa semakin pintar karena usaha orang tua dan lembaga bimbel, bukan karena kinerja para guru di sekolahan. Semua kembali ke cara penilaian hasil belajar matematika yang diterapkan guru.


Kesalahan Menerapkan Standar Kelulusan


Beberapa guru matematika memberi penilaian hasil belajar matematika dari hasil akhir pengerjaan soal. Misalkan ketika siswa mengerjakan soal cerita. Siswa benar dalam proses pengerjaannya, penulisan rumus dan penulisan kalimat matematikanya. Hanya saja, ia “terpeleset” di hasil akhir. Seharusnya ia menjawab dengan satuan meter, tetapi ia malah menulis centimeter.


Tanpa basa-basi, sang guru memberi nilai nol tanpa mempertimbangkan usaha siswa dalam mengerjakan soal. Jika demikian, apa bedanya anak malas yang tidak mengerjakan soal sama sekali dengan anak rajin yang sudah berusaha tapi kurang teliti jika keduanya sama-sama mendapat nilai nol?


Oleh karena itu, guru hendaknya memberi penilaian hasil belajar matematika berdasarkan usaha siswa dalam mengerjakan soal. Selain siswa merasa dihargai atas usaha belajarnya, rasa percaya diri pun akan bertambah jika ia memperoleh dukungan dari gurunya baik berupa pujian atau penghargaan lain.


Permudahlah, Jangan Dipersulit


Banyak guru yang berpendapat jika siswa diberi soal yang sulit maka siswa akan terpacu belajar lebih giat lagi. Selain itu, jika siswa mampu mengerjakan soal sulit, maka ia akan mudah mengerjakan soal-soal lainnya.


Pendapat di atas jelas salah. Penilaian hasil belajar matematika harus disesuaikan dengan kemampuan siswa pada umumnya. Meskipun target kurikulum mengarahkan siswa mampu mengerjakan soal perkalian dan pembagian hingga ratusan, guru harus memulai perhitungan dari dasar.


Mulailah dari perkalian dan pembagian tingkat satuan, kemudian puluhan, lalu ratusan. Dengan demikian, siswa akan merasa bahwa mengerjakan soal matematika itu mudah. Jika siswa menganggap bahwa matematika itu mudah, maka ia akan berusaha menyelesaikan soal tersebut. Sebaliknya, jika siswa menganggap bahwa matematika itu sulit, ia akan mundur di awal sebelum mengerjakan soal matematika.

Share this article :

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Follow by Email

Wikipedia

Hasil penelusuran

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. SDN KEBON KACANG 01 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger